Sebuah Hasil Kontemplasi Sepintas
Saya punya kebiasaan mandi sambil mendengarkan lagu-lagu. Biasanya saya memutar playlist kesukaan melalui smartphone saya, yang suara speakernya tidak seberapa bagus (tapi tidak masalah, sebab fungsinya hanya untuk mengusir keheningan).
Hari ini, ketika sedang melakukan ritual mandi pagi (yang benar-benar saya kerjakan di siang hari), sebuah lagu dari penyanyi country Amerika tahun 60an, Bob Dylan, yang berjudul Blowin' In The Wind secara acak terputar berkat algoritma shuffle play. Sekilas saya menyimak penggalan liriknya yang khas lagu jaman dulu : penuh pesan dan kesan filosofis. Sepenggal lirik itu berbunyi "How many years can some people exist before they're allowed to be free?"
Seketika ritual mandi pagi kali itu menjadi ajang berdialog bagi saya dengan diri saya sendiri.
Belakangan memang sering terpikirkan oleh saya, kapan saya akan mulai melakukan hal-hal untuk diri saya sendiri lagi?
Rasanya sudah lama sejak terakhir kali saya melakukan hal yang saya benar-benar ingin lakukan karena diri saya sendiri, sampai-sampai saya tidak ingat kapan terakhir kali itu (atau malah memang tidak pernah?).
Pertanyaan dalam lirik itu lalu saya tanyakan berulang-ulang dalam kepala saya: seberapa lama seseorang bisa 'ada' sampai dia boleh benar-benar menjadi bebas?
Hal pertama yang terpikirkan oleh saya adalah bahwa nampaknya tidak ada rumusan yang jelas untuk menjawab 'seberapa lama' itu.
Disamping itu, kita tidak bisa mengukur seberapa lama manusia harus 'bertahan hidup' atau 'ada' sampai mereka benar-benar bisa menjadi bebas, kalau kita tidak terlebih dahulu menjawab apakah bebas itu.
Bagi saya (yang tentu bisa jadi berbeda dengan pemahaman orang lain), bebas adalah ketika saya dapat melakukan apapun (entah pada akhirnya saya benar-benar melakukannya atau tidak) tanpa ada hambatan/larangan/batasan-batasan baik dari luar maupun dari dalam diri saya sendiri.
Mungkin saja manusia bisa menjadi bebas, tapi saya rasa kita tidak bisa menjadi sepenuhnya bebas. Selalu ada batasan. Misalnya saja, bagi orang yang percaya bahwa manusia tercipta pada hakikatnya untuk menjadi makhluk yang sepenuhnya bebas, mereka bebas berpikiran demikian namun mereka sekaligus tidak bebas untuk berpikir bahwa manusia tidak bisa menjadi sepenuhnya bebas karena apa yang mereka yakini itu membatasi mereka.
Contoh lainnya, saya tidak pernah benar-benar bebas menentukan metode belajar seperti apa yang akan saya lakukan untuk persiapan nenghadapi UTS, meskipun tidak ada yang benar-benar mengharuskan saya menerapkan metode tertentu. Hal itu karena ada dorongan-dorongan dari dalam diri saya sendiri untuk berusaha lulus dalam mata kuliah yang saya ambil sehingga saya harus memaksakan diri belajar dengan cara yang tidak saya sukai. Inilah batasan yang saya ciptakan bagi diri saya sendiri.
Dalam contoh yang lebih ekstrim, saya tidak yakin kita bisa benar-benar bebas selagi apa yang bisa kita yakini saat ini hanya terbatas oleh kemampuan indra, pengalaman-pengalaman, dan apa yang kita anggap dan sepakati bahwa kita tahu itu ada. Kita tidak pernah benar-benar tau apa yang kita tidak ketahui, sehingga kita pun tidak bebas untuk mengambil keputusan atau melakukan tindakan-tindakan berdasarkan apa yang tidak/belum kita ketahui.
Kembali ke pertanyaan awal yang berasal dari lirik lagu itu: kapan (berapa lamakah hingga) manusia bisa menjadi bebas?
Untuk saat ini saya hampir yakin bahwa manusia tidak bisa menjadi bebas (sepenuhnya), sebab terkadang kita bahkan menciptakan penjara-penjara bagi diri kita sendiri.
Lalu keyakinan ini mengantarkan saya pada pertanyaan-pertanyaan lain:
Mengapa Bob Dylan mempertanyakan kapan seseorang bisa menjadi bebas? Kebebasan seperti apa yang dia maksud itu? Apakah kematian adalah semacam kebebasan (dari keduniaan ini)?
Comments
Post a Comment